Lalu rasa lelah bercampur dengan rasa sakit yang luar biasa. Dulu dan sekarang, Perempuan itu harus menanggung segala hal yang dituduhkan. Yang bahkan ketidakbenaran lainnya sudah menunggu. Fiuh, memangnya mereka pikir terbuat dari apa hati perempuan itu? Mereka pikir, sekuat apa perempuan itu? Kenapa mereka memutuskan melampiaskan segala ketidakbecusan mereka kepada perempuan itu? Sungguh, perempuan itu ingin sekali berteriak. Tapi perempuan itu tidak boleh mengeluarkan suara. Rasanya sakit sekali, sakit yang sakit sekali.
Beberapa waktu yang lalu, saya jalan-jalan ke mall. Saya naik eskalator lalu di depan saya ada 2 anak kecil laki-laki umurnya sekitar 6-7 tahun. Saya dari awal mengamati perbincangan mereka (?) Ada satu kalimat yg bagus banget kalo kata saya. "Dari pada menyalahkan kegelapan, kenapa kita enggak menyalakan lilin aja?" Omo omo, saya kayak keselek biji salak sama biji durian dalam waktu yang bersamaan. Huks.
Sebab menjadi dandelion tak hanya tentang terbang, tapi tentang tahu kapan saatnya menunggu angin yang tepat. — Setangkai dandelion hari ini pergi lebih pagi. Agaknya ini menjadi ritual tahunan setiap tanggal 22 Juli, sejak enam tahun lalu. Setangkai dandelion adalah perempuan yang masih mempercayakan hidupnya pada Dzat yang Maha Kekal. Hari ini, langkahnya terasa sedikit lebih ringan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia pun bertanya-tanya, “apa yang berbeda, ya?” Tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, ia selalu berdoa supaya di tahun berikutnya ia bisa berada di tempat yang berbeda. Untuk terbang. Menebarkan pappus. Lalu menumbuhkan kehidupan-kehidupan baru. Tapi hari ini, dandelion tidak lagi memanjatkan doa yang sama. Ia hanya berharap, segala perilaku, prasangka, dan perbuatannya tidak menjadi hal yang menakutkan bagi kehidupan. Ia ingin tetap bisa menikmati prosesnya. Proses menjadi dandelion yang pada waktunya, akan menebarkan pappusnya di Bumi. Ia sedang belajar mempr...
Hari ini rasanya jantungku tidak berada pada tempatnya, mungkin bukan hanya aku, tapi seluruh bumi yang mengenal beliau. Di sisi lain, seluruh penghuni langit sedang bersuka cita, menyambut salah satu makhluk (mungkin favoritnya) kembali, ke tempat tinggal kita semua yang sesungguhnya. Tapi percayalah, Pak Manto akan menjadi salah satu nama yang ku sebut dalam setiap sholatku, pun Mbok Ti. Al-Fatihah.
Komentar
Posting Komentar