Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Auxilium

Draft postingan kali ini saya tulis saat pulang dari rumah teman. Dalam perjalanan pulang, saya sempat berjalan kaki, lalu tanpa sadar menengadah ke langit. Malam itu langit dipenuhi bintang, banyak sekali dan indah. Hati saya rasanya langsung menyublim. Dari sana, saya memutuskan untuk membuka blog. Awalnya saya ingin menulis sesuatu yang indah, tetapi suasana malam itu justru membawa saya pada sebuah memori beberapa waktu lalu, saat saya menginap di sebuah hotel karena harus menghadiri pernikahan sahabat saya. Baiklah, mari kita mulai ceritanya. Solo traveling mungkin sudah menjadi hal yang biasa untuk saya. Mungkin sekitar 70% perjalanan saya lakukan sendiri, sisanya bersama sahabat atau keluarga. Jadi, itu bukan sesuatu yang menyeramkan atau menyedihkan untuk saya. Justru saya menikmati momen-momen tersebut, karena di situ saya merasa lebih dekat dengan diri sendiri dan punya ruang untuk merenungkan banyak hal yang perlu saya perbaiki dalam hidup (anjay). Sampai pada kejadian di...

Providentia

Rasanya sudah lama sekali saya tidak punya waktu untuk menulis. Beberapa minggu terakhir dipenuhi agenda buka puasa bersama yang datang berturut- turut, seolah Ramadan kali ini berjalan dalam irama yang cukup ramai (setidaknya untuk saya, ini ramai wkwkwk).  Karena itu, hari ini terasa seperti hadiah kecil ketika akhirnya saya memiliki waktu untuk benar- benar tidak melakukan apa- apa. Tidak ada agenda, tidak ada percakapan yang harus dikejar, hanya waktu yang berjalan pelan dan menyenangkan. Alhamdulillah, ternyata waktu luang seperti ini terasa sangat mewah. Tidak terasa Ramadan tahun ini sudah berjalan dua puluh lima hari. Saya sendiri mulai berpuasa sejak 18 Februari, dan entah bagaimana waktu terasa begitu lihai berlari. Baru kemarin rasanya menyambut hari pertama, tetapi sekarang bulan ini hampir sampai di penghujungnya. Mungkin memang begitulah waktu bekerja,  diam- diam berjalan (atau berlari), lalu tiba- tiba kita menyadari betapa banyak hal yang telah terjadi dan me...

Bu,

Beberapa waktu lalu, saya sempat pulang kampung. Tidak lama memang, tapi alhamdulillah bisa berkumpul bersama ibu, bapak, adik, kakak, kakak ipar, dan ponakan-ponakan. Sepertinya 2025 adalah tahun di mana saya paling sering pulang kampung. Selain memang ada beberapa agenda di sana, saya juga merasa, entah kenapa, saya harus lebih sering pulang. Manusia terus bertumbuh, dan saya pun begitu. Seiring bertumbuhnya badan, alhamdulillah pola pikir saya juga ikut bertumbuh. Saya merasa 2025 adalah tahun di mana saya mulai sedikit memahami dunia, tentang cara kerjanya, tentang ritmenya. Meski begitu, pada akhirnya saya tetap manusia biasa: kecil, rapuh, dangkal, dan sering tergesa-gesa di panggung kosmik ini. Di tahun ini pula saya menyadari satu hal yang sangat sederhana, tapi sering luput: bapak dan ibu adalah orang pertama yang menyayangi saya. Mereka adalah manusia-manusia pertama yang menerima saya di dunia ini. Kalau saya putar ulang ingatan sejauh yang saya mampu, rasanya memori saya...