Providentia
Rasanya sudah lama sekali saya tidak punya waktu untuk menulis. Beberapa minggu terakhir dipenuhi agenda buka puasa bersama yang datang berturut-turut, seolah Ramadan kali ini berjalan dalam irama yang cukup ramai (setidaknya untuk saya, ini ramai wkwkwk). Karena itu, hari ini terasa seperti hadiah kecil ketika akhirnya saya memiliki waktu untuk benar-benar tidak melakukan apa-apa. Tidak ada agenda, tidak ada percakapan yang harus dikejar, hanya waktu yang berjalan pelan dan menyenangkan. Alhamdulillah, ternyata waktu luang seperti ini terasa sangat mewah.
Tidak terasa Ramadan tahun ini sudah berjalan dua puluh lima hari. Saya sendiri mulai berpuasa sejak 18 Februari, dan entah bagaimana waktu terasa begitu lihai berlari. Baru kemarin rasanya menyambut hari pertama, tetapi sekarang bulan ini hampir sampai di penghujungnya. Mungkin memang begitulah waktu bekerja, diam-diam berjalan (atau berlari), lalu tiba-tiba kita menyadari betapa banyak hal yang telah terjadi dan membuat kita semakin bertumbuh.
Beberapa bulan terakhir ini, saya merasa ada begitu banyak hal yang patut saya syukuri. Tentu saja ada juga momen-momen yang menyedihkan. Bahkan ada beberapa waktu ketika saya sempat mempertanyakan eksistensi saya sendiri di Bumi ini, tentang makna, tentang arah, tentang mengapa beberapa hal harus terjadi seperti itu huft. Namun ketika saya mencoba melihatnya kembali dengan hati yang sedikit lebih tenang, saya menyadari bahwa hal-hal baik yang terjadi ternyata jauh lebih banyak daripada yang sempat membuat saya sedih.
Dari sana saya justru belajar sesuatu yang sederhana tetapi penting: bahwa kita ini sebenarnya kecil sekali. Kehidupan di Bumi ini begitu luas, begitu kompleks, dan kita hanya bagian kecil di dalamnya. Ketika memikirkan hal itu, rasanya lucu juga kalau kita masih sempat merasa sombong. Bukankah seharusnya kita berjalan di dunia ini dengan kesadaran bahwa kita hanyalah manusia yang sedang belajar? Semoga kita semua bisa terus berjalan di Bumi ini dengan kepala yang tegak dan hati yang tunduk. Aamiin.
Momen-momen sulit yang terjadi beberapa bulan terakhir, termasuk yang sempat saya ceritakan di tulisan sebelumnya, ternyata perlahan membentuk sesuatu di dalam diri saya. Saya merasa menjadi sedikit lebih tangguh, sedikit lebih tenang, dan sedikit lebih yakin bahwa hidup ini memang memiliki arah yang sering kali tidak kita pahami di awal. Saya bersyukur sekali karena pada saat-saat itu saya memilih untuk tidak menyerah. Saya hanya mencoba tetap menjadi perempuan yang percaya bahwa Allah selalu memiliki rencana yang lebih baik, menjadi perempuan yang yakin. Alhamdulillah.
Ramadan kali ini juga terasa istimewa karena saya memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertemu teman-teman saya. Tahun lalu, entah karena kesibukan atau jarak, momen seperti ini hampir tidak terjadi. Tetapi tahun ini kami bisa duduk bersama, mendengarkan cerita satu sama lain, berbagi tentang kehidupan yang ternyata sama-sama penuh dengan naik dan turun.
Ada sesuatu yang sangat menyentuh dari percakapan-percakapan seperti itu. Mendengar cerita mereka membuat saya menyadari bahwa setiap orang membawa perjuangannya sendiri. Namun yang membuat saya kagum adalah bagaimana mereka tetap memilih untuk menjadi manusia yang baik. Di dunia yang sering terasa kacau ini, masih ada begitu banyak orang yang dengan tulus memberikan kasih sayang kepada orang lain, kepada keluarga mereka, kepada teman-teman mereka, kepada orang-orang yang mungkin bahkan tidak terlalu dekat dengan mereka. Kedengarannya mungkin naif, tetapi saya benar-benar mencintai orang-orang seperti mereka. Orang-orang yang tidak kehabisan cinta untuk diberikan kepada dunia. Saya sering berdoa semoga mereka semua selalu beruntung, baik di dunia maupun di akhirat.
Belakangan ini saya juga bertemu seseorang yang bisa disebut sebagai teman baru. Saya sedikit ragu menyebutnya teman, karena mungkin saja menurut dia kami tidak sedekat itu awokwkwkwk semoga dia tidak tersinggung ya. Anyway, tetapi setidaknya kami pernah berbagi percakapan yang cukup panjang. Dia adalah partner kerja saya, sehingga dalam banyak hal kami berada pada kondisi yang nyaris sama, meskipun saya merasa tantangan yang ia hadapi jauh lebih berat daripada yang saya jalani.
Suatu waktu kami sempat berbicara cukup lama tentang hidup. Ia bercerita tentang pengalaman-pengalaman yang pernah ia lalui, dan entah bagaimana percakapan itu membuat saya merasa seperti sedang melihat sisi lain dari dunia. Dunia yang, meskipun penuh luka, tetap menyimpan begitu banyak kasih sayang. Dia tangguh sekali, bahkan sempat dia menceritakan momen kehilangan ayahnya dengan nada dan kalimat yang santai, seakan-akan tidak apa-apa. Dan yang membuat saya kagum adalah bagaimana seseorang bisa melalui begitu banyak hal dalam hidupnya, tetapi tetap memilih untuk tumbuh menjadi manusia yang lembut. Dari cara ia bercerita, saya merasa ia adalah laki-laki yang penuh perhatian dan penyayang, terutama kepada ibunya. Ada sesuatu yang sangat tulus dalam cara ia memandang keluarganya, sesuatu yang membuat saya kagum untuk kedua kalinya.
Ia tidak terdengar seperti seseorang yang sedang melarikan diri dari masa lalunya. Ia juga tidak terlihat sibuk menyesali hidupnya. Sebaliknya, ia seperti seseorang yang menerima hidupnya apa adanya, lalu memutuskan untuk tetap menjadi orang baik di tengah semua itu. Dan bagi saya, keputusan seperti itu selalu terasa sangat mengagumkan. Mungkin ia tidak akan membaca tulisan ini (karena siapa guweh, bukan penulis populer, dan blog ini isinya hanya curhatan belaka wkwkwk), tetapi saya tetap ingin mengucapkan terima kasih karena sudah bercerita kepada saya. Percakapan itu membuat saya kembali percaya bahwa kebaikan masih menjadi kemungkinan paling nyata di Bumi ini. Bahwa dengan segala alasan yang mungkin dimiliki manusia untuk menjadi keras, kita tetap bisa memilih untuk menjadi lembut. Saya berdoa semoga ia menjadi manusia yang sehat, bahagia, benar, peduli, bijak, dan beruntung, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga ia selalu menjadi manusia yang baik, dan selalu mengingat Allah.
Selanjutnya, beberapa waktu lalu kantor saya juga merayakan ulang tahunnya yang ke-41. Dalam sambutannya, Group CEO kami, Pak Harman Subakat, mengatakan sesuatu yang terus teringat di kepala saya. Beliau mengatakan bahwa hidup ini sebenarnya memiliki arsiteknya. Ada yang merencanakannya. Kalimat itu terasa sangat sederhana, tetapi juga sangat menenangkan. Karena pada kenyataannya kita sering kali terlalu sibuk mencoba memahami segalanya, padahal pengetahuan kita sangat terbatas. Kita tidak tahu apa yang sedang dipersiapkan oleh kehidupan untuk kita. Kita tidak selalu tahu mengapa sesuatu harus terjadi pada waktu tertentu. Namun mungkin memang tidak semua hal harus kita pahami. Beliau juga mengatakan bahwa dunia seharusnya berada di tangan kita, sedangkan akhirat berada di hati kita. Dengan begitu kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang, karena dunia hanya kita genggam seperlunya, sementara hati kita tetap terikat pada sesuatu yang lebih kekal. Ketika mendengar itu, saya merasa seperti diingatkan kembali bahwa hidup ini sebenarnya jauh lebih sederhana daripada yang sering kita bayangkan. Segalanya sudah Allah atur dengan sangat rapi. Kita hanya perlu berjalan, berusaha, dan percaya.
Belakangan ini saya sering merasa heran sendiri. Saya merasa masih memiliki begitu banyak kekurangan. Saya masih sering mengeluh, masih sering merasa lelah dengan hidup. Namun di tengah semua itu, Allah tetap memberikan begitu banyak rahmat. Begitu banyak kebaikan yang datang tanpa diduga. Begitu banyak manusia baik yang hadir dalam kehidupan saya. Alhamdulillah.
Terima kasih kepada semua orang yang sudah hadir dalam perjalanan ini, yang sudah mendukung, yang sudah memberikan kata-kata baik, yang mungkin bahkan tidak sadar bahwa keberadaannya pernah menguatkan saya. Mari kita terus belajar menjadi manusia yang lebih baik. Dan mari kita terus belajar untuk percaya bahwa rencana Allah selalu indah, bahkan ketika kita belum sepenuhnya memahaminya.
Mungkin pada akhirnya hidup memang seperti itu. Kita berjalan tanpa selalu tahu ke mana arah berikutnya, bertemu orang-orang yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya, dan melewati peristiwa-peristiwa yang baru kita pahami maknanya jauh setelah semuanya terjadi.
Namun semakin hari saya semakin percaya bahwa tidak ada yang benar-benar kebetulan. Selalu ada tangan yang menyusun semuanya dengan sangat rapi, bahkan ketika kita sendiri belum mengerti bentuk akhirnya. Dan... mungkin tugas kita sebenarnya sederhana: berjalan saja dengan hati yang yakin. Doakan saya ya untuk selalu bisa menjadi perempuan yang yakin.
Komentar
Posting Komentar