Bu,

Beberapa waktu lalu, saya sempat pulang kampung. Tidak lama memang, tapi alhamdulillah bisa berkumpul bersama ibu, bapak, adik, kakak, kakak ipar, dan ponakan-ponakan. Sepertinya 2025 adalah tahun di mana saya paling sering pulang kampung. Selain memang ada beberapa agenda di sana, saya juga merasa, entah kenapa, saya harus lebih sering pulang.

Manusia terus bertumbuh, dan saya pun begitu. Seiring bertumbuhnya badan, alhamdulillah pola pikir saya juga ikut bertumbuh. Saya merasa 2025 adalah tahun di mana saya mulai sedikit memahami dunia, tentang cara kerjanya, tentang ritmenya. Meski begitu, pada akhirnya saya tetap manusia biasa: kecil, rapuh, dangkal, dan sering tergesa-gesa di panggung kosmik ini.

Di tahun ini pula saya menyadari satu hal yang sangat sederhana, tapi sering luput: bapak dan ibu adalah orang pertama yang menyayangi saya. Mereka adalah manusia-manusia pertama yang menerima saya di dunia ini.

Kalau saya putar ulang ingatan sejauh yang saya mampu, rasanya memori saya hanya sampai di usia sekitar tiga atau empat tahun. Saya ingat menangis di depan rumah, di dekat bunga sepatu. Saya ingat ibu dan bapak berangkat bekerja, lalu saya menghabiskan hari bersama Mbok Ti. 

Menulis ini seperti menyusuri perjalanan panjang: dari Tia yang sungguh tidak bisa apa-apa, sampai Tia yang sekarang. Dulu rasanya sombong sekali, merasa bisa melakukan segalanya sendiri. Padahal kenyataannya, sepanjang hidup, saya selalu dibantu banyak orang. Terutama ibu dan bapak. Saya merasa terlalu egois ketika mengingat-ingat ketidaktahuan dan keterbatasan ibu dan bapak dalam banyak hal. Saya lupa bahwa ibu dan bapak juga pertama kali hidup. Pertama kali menjadi orang tua. Pertama kali menjadi ibu dan bapak.

Meskipun saya bukan anak pertama, bukankah proses belajar itu tidak pernah berhenti? Pun bagi mereka. Ibu dan bapak juga sedang belajar menjalani hidup di dunia ini. Lalu siapa saya sampai berani-beraninya menghakimi pilihan dan keputusan mereka? Saya tidak mengatakan ibu dan bapak adalah orang yang sempurna. Tentu saja tidak. Mereka sering keliru, seperti manusia pada umumnya. Tapi sungguh tidak adil ketika saya, di satu titik hidup, mengatakan bahwa mereka bukan orang tua yang baik.

Saya bisa berdiri sampai hari ini karena rahmat Allah. Salah satunya, melalui doa-doa ibu dan bapak.

Saat pulang kampung kemarin, ada momen-momen kecil yang sangat membekas. Ibu beberapa kali masuk ke kamar saya, kadang hanya untuk melihat saya, kadang untuk bilang kalau beliau baru pulang dari pasar dan membelikan kue kesukaan saya. Lalu, sehari sebelum saya kembali ke Jakarta, ibu masuk ke kamar saya untuk mengambil sesuatu. Entah bagaimana, percakapan kami mengalir ke arah yang sangat dalam.

Saya menceritakan apa yang saya rasakan selama ini sebagai anak tengah. Sejujurnya, saya sudah lama berdamai dengan kenyataan itu, dan dengan hal-hal yang memang di luar kontrol saya, salah satunya: terlahir sebagai anak tengah. Anak yang katanya sering tidak terlalu kebagian perhatian karena orang tua fokus ke anak pertama, lalu belum lama kemudian fokus berpindah ke anak bungsu.

Tapi bukankah mungkin orang tua juga tidak pernah bermaksud seperti itu? Mereka juga manusia biasa. Jadi ya... saya sudah berdamai. Well, done.

Di hadapan ibu, saya juga bercerita tentang betapa saya berjuang dalam hidup ini, hal-hal yang mungkin sebenarnya ibu juga sudah tahu.

“Tia kadang sedih, Bu. Kenapa ya Tia dari SD rasanya selalu sendirian? Tia harus berusaha sendiri untuk bisa sampai ke cita-cita. Tia harus dapat beasiswa. Bahkan untuk sarjana, Tia juga berusaha dapat beasiswa, punya banyak kerjaan part-time. Kalau enggak, mungkin Tia tidak kuliah di UGM… atau bahkan tidak kuliah sama sekali.

Tapi Mas dan adik enggak begitu. Mereka bisa dibiayai ibu dan bapak. Bahkan sekarang adik S2 pun tidak terlalu memikirkan beasiswa. Tia sedih kalau ingat itu, Bu.”

Ibu hanya diam. Saya melanjutkan, dengan suara yang mulai bergetar.

“Tia juga pengen, Bu, S2. Ibu tahu, dulu Tia pengen jadi astronot. Lalu kalau astronot sepertinya terlalu jauh, jadi Tia pengen jadi saintis dan profesor. Tia sudah berusaha sekuat yang Tia bisa. Tapi sampai sekarang belum ada hilalnya.

Tia juga enggak pakai uang sendiri karena memang mungkin enggak cukup. Tapi adik bisa S2 tanpa mikir itu. Tia sedih aja, Bu. Tia pengen S2 juga seperti adik. Tapi malah Tia yang ikut biayain adik S1, terus S2. Tianya sendiri belum S2.”

Di situ saya menangis.

Lalu saya tambahkan, “Maaf ya, Bu. Tia enggak bermaksud minta dibiayai seperti adik. Tia cuma pengen ibu tahu aja apa yang Tia rasain sekarang.”

Ibu diam beberapa saat. Lalu beliau berkata pelan,

“Seharusnya Tia bangga dengan apa yang Tia lakukan. Tia itu kuat sekali, dan bisa berbesar hati seperti ini.”

“Iya, Bu. Tia bangga. Tapi Tia juga sedih…”

Kemudian ibu berkata lagi,

“Makasih ya, Nduk, sudah mandiri sekali. Maaf ya, Nduk. Ibu dan bapak enggak bisa biayain kamu. Malah kamu yang biayain bapak dan ibu.”

Di situ tangis saya pecah. Saya benar-benar menangis sesenggukan. Mendengar ibu minta maaf… entah kenapa rasanya begitu menghantam.

Apa selama ini itu yang ingin saya dengar?
Apa selama ini saya terlalu tenggelam dalam perasaan saya sendiri, sampai lupa bahwa ibu dan bapak mungkin juga berjuang berdarah-darah? Dan saya, yang dangkal ini, terlalu fokus pada luka saya sendiri.

Setelah itu, kami saling mengungkapkan banyak hal. Dan rasanya lega sekali. Well, hari itu saya tidak pulang membawa jawaban atas semua doa saya. Saya juga belum tiba di titik yang saya impikan. Tapi saya pulang dengan sesuatu yang lebih penting: pemahaman.

Pemahaman bahwa cinta orang tua tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita inginkan, tapi hampir selalu hadir dalam bentuk yang kita butuhkan, meski sering kita sadari terlambat. Dan mungkin, tumbuh dewasa memang tentang itu: belajar melihat dengan hati yang lebih luas.

Maafkan ketidaksempurnaan Tia sebagai manusia, sebagai anak, sebagai perempuan, ya Bu, Pak.
Terima kasih banyak sudah menyayangi Tia dengan cara yang, sekarang saya tahu, amat sempurna.

Insyaallah nanti kalau Tia punya suami dan anak, Tia akan menjadi yang jauh lebih baik. Menjadi istri dan ibu yang jauh lebih baik. Aamiin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Taraxacum

Kation

Influenza A