Dalam hidup, tidak ada yang lebih tau mengenai dirimu sendiri selain kamu Orang lain akan selalu menilaimu dari apa yang mereka lihat Meskipun itu tidak sepenuhnya dirimu Dalam hidup, akan selalu ada kontra tentang apa yang kamu lakukan Orang lain selalu menganggapmu seperti yang terbentuk di benak mereka Di masa-masa ini, di masa-masa yang baru ini, Widha harus semangat Widha harus kuat Widha harus bersyukur Mungkin ini berat, Memang berat Orang yang tidak percaya kamu tidak akan percaya perkataanmu meskipun yang kamu katakan itu sebenarnya Tapi jangan khawatir, Widha masih punya orang yang percaya Melewati hari demi hari sendirian Menangis Menyalahkan diri sendiri Tapi Widha harus tetap tegar Di masa-masa berat ini, Widha harus bisa semangat Karena saya tau Widha pasti bisa Widha, keep it up! Terima kasih sudah mau bertahan dan belajar Semoga Tuhan selalu bermurah hati
Tahun 2024 adalah tahun penuh tantangan bagi saya. Rasanya seperti terombang-ambing di tengah lautan tanpa kepastian, seolah-olah hidup ini tak bisa diprediksi—apakah akan selamat atau tenggelam. Dari awal tahun hingga kini, begitu banyak hal terjadi; namun, izinkan saya menceritakan beberapa kejadian yang paling membekas akhir-akhir ini. Hidup saya dipenuhi kejutan, dari yang menyenangkan hingga yang penuh duka. Agustus menjadi titik awal pergolakan besar dalam pekerjaan. Tim di tempat kerja berubah total ketika dua anggota resign, memaksa tim kami beradaptasi dengan komposisi baru. Dari yang sebelumnya terdiri dari 1 lead dan 6 orang yang menangani 9 direktorat, kini berubah menjadi 1 lead dan 4 orang yang harus menangani 10 direktorat. Ditambah lagi, hampir semua direktorat dalam proses transformasi organisasi, menghadirkan tantangan yang tak sedikit. Omelan dan caci maki sudah menjadi “sarapan” harian dari user yang kritis. Meski respons mereka di luar kendali saya, saya tetap beru...
Draft postingan kali ini saya tulis saat pulang dari rumah teman. Dalam perjalanan pulang, saya sempat berjalan kaki, lalu tanpa sadar menengadah ke langit. Malam itu langit dipenuhi bintang, banyak sekali dan indah. Hati saya rasanya langsung menyublim. Dari sana, saya memutuskan untuk membuka blog. Awalnya saya ingin menulis sesuatu yang indah, tetapi suasana malam itu justru membawa saya pada sebuah memori beberapa waktu lalu, saat saya menginap di sebuah hotel karena harus menghadiri pernikahan sahabat saya. Baiklah, mari kita mulai ceritanya. Solo traveling mungkin sudah menjadi hal yang biasa untuk saya. Mungkin sekitar 70% perjalanan saya lakukan sendiri, sisanya bersama sahabat atau keluarga. Jadi, itu bukan sesuatu yang menyeramkan atau menyedihkan untuk saya. Justru saya menikmati momen-momen tersebut, karena di situ saya merasa lebih dekat dengan diri sendiri dan punya ruang untuk merenungkan banyak hal yang perlu saya perbaiki dalam hidup (anjay). Sampai pada kejadian di...
Di malam menjelang Senin ini, entah kenapa saya merasa perlu untuk mengabadikan kejadian seminggu ke belakang. Rasanya terlalu “besar” untuk disimpan sendiri (atau ya memang oversharing aja, pararunten akang teteh). Jadi izinkan saya berbagi cerita yang genre-nya cenderung konyol ini, tapi ya begitulah hidup. Tahap 1 Jumat malam, 14 November 2025, sepulang kantor, badan saya mulai terasa aneh. Ngilu sakit (gimana ya, sakit), tenggorokan mulai pedih, dan demam perlahan mulai terasa. Tapi di kepala saya cuma ada satu hal: “Besok saya sudah janji pergi. Jadi tidur saja. Pasti besok baik-baik saja.” Naif sekali ya, kalau dipikir sekarang HAHAHA. Tahap 2 Sabtu, 15 November 2025. Saya masih sempat belanja sayur, buah, protein, seolah tubuh saya baik-baik saja. Bahkan masih olahraga satu jam. Rasanya seperti masih ingin membuktikan bahwa saya kuat. Bahwa tubuh saya patuh dengan segala hal yang sudah saya tetapkan. Padahal, tubuh saya sedang memberi warning, tapi saya yang tidak mau pek...
Komentar
Posting Komentar