Interstitium

Hari ini saya menghadiri presentasi anak MT. Ada satu hal yang cukup menyentil. Tadi ada yang menyampaikan tentang "sadar lagi apa, sadar lagi di mana, betul-betul hadir secara utuh". Being mindful lah intinya. Long story short, kalimat itu terus muter-muter di kepala saya. Sampai akhirnya saya jadi bertanya-tanya, selama ini saya sebenarnya sudah mindful belum ya? Atau jangan-jangan cuma ngambang aja? Menjalani hari demi hari, berpindah dari satu urusan ke urusan lain, menyelesaikan satu checklist lalu membuat checklist baru, tanpa benar-benar hadir (anjay kali y temen-temen).

Karena penasaran, tadi saya sempat mencoba (?) diam sebentar. Tidak melakukan apa-apa yang spesial. Tidak mencari jawaban yang mendalam juga. Hanya memperhatikan apa yang ada di sekitar saya. Dan entah bagaimana, mata saya justru tertuju pada sebuah bekas luka di tangan yang baru-baru ini tercipta karena suatu hal (sebut saja infus lalu ketambahan kebaret pintu, hadeeeh deymn).

Lucunya, beberapa hari lalu saya cukup sibuk memikirkan luka ini. Apakah bisa hilang? Kalau tidak hilang bagaimana? Kalau jadi bekas permanen bagaimana? Aduh. Pokoknya segala macam kekhawatiran khas manusia yang kadang suka membayangkan skenario terjauh sebelum hal yang dekat benar-benar terjadi. Lol.

Tapi ketika saya melihatnya lagi hari ini, saya menyadari sesuatu. Beberapa hari lalu luka ini masih terbuka. Masih perih. Masih mengganggu. Sekarang kok sudah menutup saja? Sudah tidak sakit. Dan yang lebih menarik, saya tidak merasa melakukan apa-apa. Saya cuma hidup seperti biasa. Kerja, meeting, makan, scrolling, baca buku, mengeluh sedikit, tertawa sedikit, ngupil (what?), apa lagi ya hmm ya gitu deh, lalu mengulangi semuanya lagi keesokan hari. 

Tapi selama itu, ternyata ada sesuatu yang bekerja diam-diam.

Karena penasaran, saya membaca sedikit tentang proses penyembuhan luka. Dan ternyata, bekas luka itu super kompleks. Bekas luka adalah hasil biomolekuler yang super kompleks. Di balik sesuatu yang terlihat sederhana di permukaan, ada begitu banyak proses biologis yang terjadi. Ada sel yang datang membersihkan area luka, ada yang membangun jaringan baru, ada kolagen yang disusun ulang, ada berbagai sinyal kimia yang saling berkomunikasi dengan cara yang bahkan masih terus diteliti oleh para ilmuwan. Semua bekerja dengan tujuan yang sama: memastikan kita baik-baik saja.

Entah kenapa saya merasa hal itu sangat mengharukan. Mungkin terdengar agak lebay. Tapi bayangkan saja. Ketika kita terluka, tubuh tidak berkata, "wah capek nih, besok aja lanjut." Ngga ada koordinasi. Ngga ada alignment meeting. Ngga ada follow up yang ditunda minggu depan karena semua orang sedang penuh agenda. Mereka langsung bekerja. Diam-diam. Konsisten. Bahkan ketika kita sendiri tidak sadar kalau mereka sedang bekerja keras untuk kita. Huhuhu ya Allah makasih banyak (langsung ingin bertaubat)

Dan mungkin di situlah saya mulai memahami mindfulness dengan cara yang berbeda. Karena kalau dipikir-pikir, beberapa hari lalu saya melihat luka yang sama, tetapi saya tidak melihat hal yang saya lihat hari ini. Yang saya lihat waktu itu hanya rasa sakitnya, ketidaknyamanannya, dan kekhawatiran tentang bekasnya. Baru ketika saya berhenti sebentar dan benar-benar memperhatikannya, saya menyadari bahwa ada proses penyembuhan yang luar biasa yang sedang berlangsung, dan jadinya saya tidak lagi berpikir macam-macam. Alih-alih khawatir soal bekasnya, saya justru sibuk dibuat takjub oleh mahakarya biomolekuler super kompleks ini.

Saya jadi berpikir, mungkin banyak hal dalam hidup yang seperti itu. Bukan karena tidak ada pelajarannya. Bukan karena tidak ada kebaikannya. Tapi karena kita terlalu sibuk dan tidak belajar untuk melihatnya dari dekat.

Bekas luka kecil ini akhirnya mengingatkan saya bahwa sesegedak-gedebuk apa pun hidup kita, tanpa kita sadari, we are supported, guys! Kita tidak pernah benar-benar sendiri. Sungguh Tuhan menyiapkan banyak sekali support system yang melibatkan reaksi-reaksi kimiawi yang luar biasa kompleks di dalam tubuh kita. Untuk apa? Untuk memastikan kita baik-baik saja.

Dan tiba-tiba saya merasa bersyukur. Bukan karena memiliki bekas luka, tentu saja. Tapi karena bekas luka itu mengingatkan saya pada sesuatu yang sering saya lupakan: bahwa setiap hari ada begitu banyak hal yang menopang kita. Banyak proses baik yang berjalan diam-diam. Banyak pertolongan yang bekerja tanpa suara. Dan sering kali, kita baru menyadarinya ketika kita berhenti sebentar untuk benar-benar melihat. 

Semoga kita bisa senantiasa menjadi manusia-manusia yang selalu yakin dan bersyukur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Taraxacum

Kation

Influenza A