Postingan

Pak Manto dan Mbok Ti

Tadi saya main ke pengasuh saya pas kecil, saya emang tiap pulang selalu main kesana selagi bisa.  Tapi tadi mah beda, rasanya sedih aja gitu. Hiks. Namanya Sumanto dan Sutiyem, saya memanggil mereka dengan sebutan pak manto dan mbok ti. Kalau nggak diasuh sama beliau-beliau, saya mungkin nggak ngerasain nggembalain kambing di lapangan sambil duduk di bawah pohon sambil makan kacang kedelai yang direbus dan masih ada kulitnya. Saya juga mungkin nggak ngerasain gulung-gulung dan berenang di lumpur saat sawahnya dibajak, jatuh dari pohon kersen yg tinggi banget sampe paha atas saya harus dijahit LOL, ngelihat adik saya bersimbah darah pas abis jalan-jalan pagi karena saya suka bereksperimen mendorong adik saya ke sungai, beli nasi goreng sebungkus dimakan berempat sama adik saya, pulang sekolah ke rumah mbahnya saya dikejar orang gila LOL ini lucu banget saya masih TK, saya bahkan masih inget banget siapa nama orang gila tersebut, tapi demi kemaslahatan umat saya nggak mau menyebut...

Ya Rabb

Betapa kematian begitu dekat

Indonesia

Saya terkadang tidak paham juga kenapa saya sangat mencintai Indonesia. Kalau dipikir-pikir, rasanya sesak juga tinggal di negara berkembang yang dilabeli dengan "negara yang serba susah". Tapi bukankah bisa berkontribusi untuk membangun negeri dan perlahan menghapus label "negara yang serba susah" itu bisa kita lakukan? Semoga, kalian, saya, dan kita semua senantiasa bisa mencintai negeri kita ini dan bisa memberikan manfaat sekecil apapun. Aamiin.

Nasehat

"Kalau kamu mau jadi air, ya jadi air aja. Jangan pernah terpikir kamu pengen jadi bensin. Pun sebaliknya. Karena kalau setengah air setengah bensin, ga ada fungsinya. Buat minum ga bisa, buat bahan bakar juga ga bisa." Kata seseorang kepada saya.

Sebenarnya

Sebenarnya, Dalam hidup, Kita cukup berusaha, berdoa, dan bersyukur. Kenapa? Karena mungkin saja ada banyak sekali orang yang ingin berada di posisi kita. Tapi kita justru acuh dan merasa paling menderita sedunia. Begitu seterusnya.

Bintang

Saya pernah meminta kepada bintang Supaya bersinar menerangi malam Agar ibu dan bapak selalu bisa melihat saya Karena pesan rindu saya saya sampaikan melalui bintang Saya pernah meminta kepada bintang Supaya berkelap-kelip dengam indahnya Agar ibu dan bapak tau bahwa saya bersyukur Terlahir menjadi anaknya Semoga saya selalu bisa melihat bintang Menyampaikan rasa rindu Menyampaikan keluh kesah Menyampaikan pesan, meski suatu saat tak berbalas

Gravitasi Anak-anak

Saya sering kagum kepada anak-anak. Jiwa mereka selalu penuh semangat--meletup-letup--dan berbinar-binar seperti petasan. Sampai-sampai saya punya hipotesis kalau jiwa anak-anak itu terbuat dari petasan. Anak-anak itu selalu bisa tersenyum. Bukan senyum penuh dengan kepura-puraan, melainkan penuh dengan ketulusan. Anak-anak tidak tau caranya berpura-pura, anak-anak tidak tau caranya membohongi diri sendiri. Jika mereka bersedih, maka mereka akan menangis. Jika mereka bahagia, maka mereka akan tertawa. Keren sekali ya? Anak-anak selalu mengahadapi masalah dengan sangat sederhana, tidak rumit seperti orang dewasa. Anak-anak selalu melihat dunia dengan cara yang menyenangkan. Bahkan mereka sering tertawa sesaat setelah menangis. Mereka selalu bisa berdamai sesaat setelah mereka bertengkar dengan teman sepermainannya. Bagi anak-anak, dunia ini begitu menyenangkan. Oleh karena itu saya selalu kagum kepada anak-anak. Semangatnya seperti gravitasi. Kuat tetapi belum diketahui darimana asa...