Lalu rasa lelah bercampur dengan rasa sakit yang luar biasa. Dulu dan sekarang, Perempuan itu harus menanggung segala hal yang dituduhkan. Yang bahkan ketidakbenaran lainnya sudah menunggu. Fiuh, memangnya mereka pikir terbuat dari apa hati perempuan itu? Mereka pikir, sekuat apa perempuan itu? Kenapa mereka memutuskan melampiaskan segala ketidakbecusan mereka kepada perempuan itu? Sungguh, perempuan itu ingin sekali berteriak. Tapi perempuan itu tidak boleh mengeluarkan suara. Rasanya sakit sekali, sakit yang sakit sekali.
Beberapa waktu yang lalu, saya jalan-jalan ke mall. Saya naik eskalator lalu di depan saya ada 2 anak kecil laki-laki umurnya sekitar 6-7 tahun. Saya dari awal mengamati perbincangan mereka (?) Ada satu kalimat yg bagus banget kalo kata saya. "Dari pada menyalahkan kegelapan, kenapa kita enggak menyalakan lilin aja?" Omo omo, saya kayak keselek biji salak sama biji durian dalam waktu yang bersamaan. Huks.
He removes your comfort. "And We will surely test you…" - Qur'an 2:155 He closes certain doors. "Perhaps you dislike a thing and it is good for you…" - Qur'an 2:216 He teaches you patience. "Indeed, Allah is with the patient." - Qur'an 8:46 He tests your faith. "Do people think they will be left to say, ‘We believe,’ and they will not be tested?" - Qur'an 29:2 And He reminds you: "Indeed, with hardship comes ease." - Qur'an 94:5-6 Maybe growth doesn't always feel like becoming more. Sometimes, it feels like letting go, waiting, trusting, and surrendering. Just a few days ago, I told someone that I wanted to learn how to surrender. And yeah, here I am. And maybe this is what surrender looks like, trusting Allah even when you don't know what's coming next.
Sebab menjadi dandelion tak hanya tentang terbang, tapi tentang tahu kapan saatnya menunggu angin yang tepat. — Setangkai dandelion hari ini pergi lebih pagi. Agaknya ini menjadi ritual tahunan setiap tanggal 22 Juli, sejak enam tahun lalu. Setangkai dandelion adalah perempuan yang masih mempercayakan hidupnya pada Dzat yang Maha Kekal. Hari ini, langkahnya terasa sedikit lebih ringan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia pun bertanya-tanya, “apa yang berbeda, ya?” Tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, ia selalu berdoa supaya di tahun berikutnya ia bisa berada di tempat yang berbeda. Untuk terbang. Menebarkan pappus. Lalu menumbuhkan kehidupan-kehidupan baru. Tapi hari ini, dandelion tidak lagi memanjatkan doa yang sama. Ia hanya berharap, segala perilaku, prasangka, dan perbuatannya tidak menjadi hal yang menakutkan bagi kehidupan. Ia ingin tetap bisa menikmati prosesnya. Proses menjadi dandelion yang pada waktunya, akan menebarkan pappusnya di Bumi. Ia sedang belajar mempr...
Komentar
Posting Komentar