Di malam menjelang Senin ini, entah kenapa saya merasa perlu untuk mengabadikan kejadian seminggu ke belakang. Rasanya terlalu “besar” untuk disimpan sendiri (atau ya memang oversharing aja, pararunten akang teteh). Jadi izinkan saya berbagi cerita yang genre-nya cenderung konyol ini, tapi ya begitulah hidup. Tahap 1 Jumat malam, 14 November 2025, sepulang kantor, badan saya mulai terasa aneh. Ngilu sakit (gimana ya, sakit), tenggorokan mulai pedih, dan demam perlahan mulai terasa. Tapi di kepala saya cuma ada satu hal: “Besok saya sudah janji pergi. Jadi tidur saja. Pasti besok baik-baik saja.” Naif sekali ya, kalau dipikir sekarang HAHAHA. Tahap 2 Sabtu, 15 November 2025. Saya masih sempat belanja sayur, buah, protein, seolah tubuh saya baik-baik saja. Bahkan masih olahraga satu jam. Rasanya seperti masih ingin membuktikan bahwa saya kuat. Bahwa tubuh saya patuh dengan segala hal yang sudah saya tetapkan. Padahal, tubuh saya sedang memberi warning, tapi saya yang tidak mau pek...
Menjelang akhir tahun, biasanya saya akan mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi: apa yang sudah saya lakukan, dan apa yang sudah berlalu. Alhamdulillah atas segala curahan rahmat dari Allah. Shalawat serta salam juga saya lantunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Di sela-sela saya melakukan throwback ini, saya teringat pada satu sudut hati yang paling tersembunyi, tempat di mana mimpi saya masih menetap. Masih ada hal yang hingga kini belum terwujud: melanjutkan studi saya, melanjutkan mimpi saya. Tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, saya selalu berkata, "Mungkin tahun depan ya. Bismillah. Bi idznillah." Tapi sampai hari ini, belum ada satu pun beasiswa yang nyantol hehe. Yang saya syukuri, Allah masih memberi saya semangat, tidak menyerah, alhamdulillah tahun ini sempat lolos di rangkaian seleksi beasiswa, walaupun akhirnya tidak lolos, tapi paling tidak tahun ini ada momen lolos hehe. Huft, ternyata tanpa sadar, saya menitikkan air mata. Saya ...
Sudah bisa dipastikan, pada masing-masing tahapan hidup, kita dianugerahi satu dua atau beberapa manusia baik yang cenderung pasrah (?) mau dekat dengan kita. Nah, saya juga punya beberapa, tapi kali ini saya akan bercerita soal dua manusia baik dulu, Kak Ria dan Kak Sarah (maaf banget sok muda tapi di dalam sirkel ini memang saya paling muda. OK. Ya walaupun di kehidupan sehari-hari "Kak" hanya saya gunakan untuk Kak Sarah HAHAHA). Saya juga bisa pastikan ketika membaca tulisan ini, mereka berdua akan mual, muntah, pusing, dan gejala anti alay lainnya. Baiklah, saya tahu ini sedikit alay, tapi tolong kalau kalian yang membaca ini setidaknya jangan pingsan dulu. Mungkin, sudah banyak teman-teman mereka lainnya yang menceritakan kisah inspiresyen dari mereka berdua, maka saya merasa perlu juga menceritakan kisah saya yang cenderung tidak inspiresyen-inspiresyen banget ini yang tapi insyaallah saya buat sejujur mungkin dan penuh kasih sayang (hueks). Well, setelah naik turun dr...
Komentar
Posting Komentar